YOU'R FIRST TO ME


Cerpen Karya Nasya Filan

Kau lah orang yang selalu menemani iringan nafasku…
Kau lah orang yang selalu menemani iringan detak jantungku…

Kau selalu membuatku gila jika berada di sampingmu…
Membuat jantungku berdetak tanpa kendali…
Membabi buta…

Tapi… hatimu gelap untuk menatap keberadaanku…

“Menurutmu Wiwit gimana?” tanya Prince padaku yang membuat jantungku seakan berhenti seketika. Cemburu.
“Entahlah. Kau ingin aku melihat dari sisi mana?” tanyaku dengan nada yang kubuat sedatar mungkin. Tapi kurasa itu tak berhasil, karena Prince mengerutkan keningnya.
“Kau tak apa?” tanyanya yang mau tak mau membuat senyumku mengembang sebentar sebelum pupus. “Kurasa segala sisi,” lanjutnya tanpa menginginkan jawabanku untuk pertanyaan pertamanya.
“Dia politis,” jawabku sambil memalingkan wajahku menatap sepatuku yang ku tali asal-asalan.

You're First To Me - Cerpen Cinta
Dia menatapku heran dengan matanya yang teduh. Dia begitu dekat denganku. Bahkan aku bias merasakan panas tubuhnya dan juga wangi khas seorang pria dari tubuh Prince. Ya tentu, karena aku duduk di bangku yang sama dengan Prince. Berbagi bangku yang sempit dengannya.
“Jadi, bagaimana rencanamu?” mungkin Prince melihat perubahan wajahku.
“Kuliah, tentu saja,” jawabku dengan senyum yang mengembang lagi di bibirku.
“Itu baru temanku,” dukungan darinya lebih berarti dari apa pun.
Kau lah My Prince…

Kau selalu bias mengendalikan pikiranku hanya tertuju padamu…
Tak teralihkan…
Sulit membuatku berpikir normal…
Hanya kau yang ku inginkan…
Hanya kau…
Tak ada pria selain kau yang benar-benar ku inginkan…
Hanya kau…
Andai kau tahu itu…

“Ini,” kata temanku, Niken sambil menunjukan pekerjaannya padaku. “Jawabannya Big Bang atau berkembang?”
“Kalau berputar itu big bang, tuh kata kuncinya,” jawabku sambil tersenyum.
Saat mataku terangkat dari buku, aku menemukan mata Prince, dan dia tersenyum padaku. Sekilas aku berpikir dialah pusat dunia. Karena malu akan tatapannya yang begitu membuatku terbang, aku pun memutuskan untuk melanjutkan belajarku. Tapi sial. Gagal.
“Wah sepertinya aku tak perlu kuatir dengan try out kali ini,” ucap seseorang yang mengambil tempat di samping kananku. Saat aku menengok ternyata itu Prince.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“Kulihat kau sudah siap?” ujar Prine lagi.
“Kurasa tak seperti terlihatnya,” jawabku tanpa melepas tatapanku dari buku.
“Lihatlah bukuku,” pintanya sambil menunjukkan buku tugasnya dengan halaman yang sama dengan halaman yang ku buka. “Masih bersih,” lanjutnya sambil menyeringai.
Aku pun mendengus.
“Terus kau mau apa,” jawabku dengan menatapnya untuk pertama kali. Dan kurasakan pipiku panas. Damn! Aku sebal dengan kebiasaan ini. Aku pun menunduk dan beralih menatap Niken yang berada di sebelah kiriku. Dia hanya tersenyum mengerti. Tapi itu tak membantu untukku.
“Try out kali ini aku nyontek kau saja ya,” jawabnya dengan senyuman andalannya.
“Kau terlalu lucu untuk ku tolak,” ujarku becanda.

Dia pun tertawa yang ku balas senyuman tipis dariku. Dan aku mulai membaca buku geografi-ku lagi.
“Apa rencanamu untuk hidup ini?” aku terlonjak dengan ucapannya yang terburu-buru tanpa aba-aba panggilan untuk meminta perhatianku.
“Hah?” hanya itu yang bias keluar dariku sambil menengok kearah Prince yang menatap taman di depan kami dengan mata yang menerawang.
“Ap rencanamu untuk hidup ini?” ulangnya yang kini sudah menatapku sambil tersenyum tipis.
“Oh… apa ya?” jawabku sambil menutup bukuku di pangkuanku. “Mungkin kuliah, terus nyusul kakakku ke Kalimantan, cari kerjaan—“ cerocosku terpotong oleh Prince.
“Terus kapan nikahnya? Keburu tua tahu,” jawabnya yang membuat aku dan Niken tertawa geli.
“Kau aneh,” pekikku sambil memukul gemas kakinya yang terlipat dan menindih kakiku yang terjulur.
“Kau terlalu cepat berpikiran seperti itu pak Kepala Suku,” timpal Niken yang membuat Prince cemberut.
“Ok, ok… jelas menikah itu bukan pioritasku saat umurku masih 18 tahun, Prince,” jawabku sambil tersenyum tipis yang membuat Prince kembali tersenyum.
“Tapi kau harus memikirkan itu, nona-nona,” jawabnya yang ditujukan padaku dan Niken.
“Baik, tuan,” jawabku sekenanya dan ingin mengakhiri obrolan dengan topik yang tidak nyaman ini.
“By the way, ngapain kamu pingin ke Kalimantan? Disana panas dan sepi kau tahu,” ujarnya sambil melirikku.
“Entahlah. Mungkin mitos,” jawabku sambil menatap buku.
“Mitos? Maksudmu?” tanyanya yang kini merubah duduknya menghadap padaku.
“Posisi dudukmu membuatku tak nyaman Prince,” jawabku masih dengan menghadap ke buku.
“Aku nyaman dengan posisi ini. Dan kurasa kau belum menjawab pertanyaanku,” tuntutnya yang membuatku mendengus dan memutar bola mataku.
“Begini,” aku memulainya dengan memutar tubuhku 90 derajat ke kanan untuk bisa berhadap-hadapan dengan Prince yang baru ku ketahui adalah sebuah kesalahan besar. Karena seketika pipiku panas. “Kata teman kakakku jika sudah pernah meminum air dari tanah Kalimantan, maka dia akan merasakan ketertarikan yang lebih. Rasanya kangen,” ujarku yang disambut “O” panjang dari Prince.
“Kau tahu, aku juga lahir di Kalimantan, tepatnya di Palangkaraya. Dan lihatlah aku! Hitam. Itu karena di sana panas sekali. Apa kau rela jika kulit putih naturalmu ini hitam?” tanyanya dengan mengangkat tangan kiriku ke udara.

Aku mau tak mau tersenyum sambil tertunduk. Rasanya terbang ke langit ketujuh. Namun, aku tak menemukan serpihan rasa bahagia dalam mata Prince. Matanya masih sama datarnya seperti biasanya.
“Kurasa jawabannya tidakkan?” sambungnya.
“Um… bias jadi,” jawabku dengan mengangkat sebelah alisku.
“Wiwit saja pasti tak rela,” sambungnya dengan nada yang datar seperti tak tahu perubahan wajahku.
“Dan… pasti kau tahu jika aku dan Wiwit orang yang berbeda,” jawabku ketus sambil mengambil posisi semula.
“Oh ya tentu saja,” jawabnya sambil duduk dengan posisi yang semula.
“Diam, jika kau masih mau mendapatkan contekan dariku,” ujarku tajam.
Akhirnya dia diam. Dan aku benar-benar tak suka jika dia ada di sebelahku namun hanya diam saja. Bagai membuang emas begitu saja. Tapi mau bagaimna lagi. Aku muak dia membicarakan Wiwit yang dia taksir di depanku. Dia suka Wiwit tapi tidak menyukai sifatya. Hahaha… lucu.

Bel masuk try out berbunyi. Aku segera berdiri tanpa menghiraukan Prince yang masih terduduk.
“Hey,” panggil Prince yang entah pada siapa.
“Dia memanggilmu,” ujar Niken yang membuatku menengok ke belakang dan melihat Prince yang masih duduk di lantai sambil menjulurkan tangan kanannya ke udara.
Akupun berbalik dan menyambut tangannya untuk membantunya berdiri.
“Aku punya nama jika kau tahu,” jawabku masih ketus saat dia sudah menjulang di depanku sambil nyengir.

Kadang aku berpikir jika aku diciptakan untukmu…
Karena dari ketidakberdayaanku untuk membuatmu buruk…
Kau selalu sempurna bagiku…
Aku bagai terbuat dari tulang rusukmu…
Yang akan kembali pada tubuhmu suatu saatnya nanti…

“Wow… pertunjukan hebat kawan,” pekik Niken saat aku dan kelompokku turun dari panggung setelah ujian praktek menari.
“Thanks,” jawabku sambil tersenyum.
Setelah selesai semua acara praktek yang sangat menyenangkan ini, akhirnya kebiasaan narsis-ku dan teman-temanku tersalurkan.

Saat aku melihat Prince ditarik kesana kemari oleh cowok maupun cewek untuk berfoto, akhirnya dia duduk di pinggir pintu sambil tersenyum melihat teman-temannya yang menunjukkan gaya yang aneh dan lucu.
“Bagaimana jika kita berfoto?” tanyaku meminta persetujuan.

Prince menoleh padaku dengan tekstur sangat keren.
“Boleh,” jawabnya sambil berdiri. “Bisa kugunakan menyumpal album fotoku yang—“ dengan segera kupotong ucapannya, karena aku tahu apa maksudnya.
“Ya… ya… ya… kau bias gunakan foto ini untuk mengusir nyamuk atau tikus. Terserah kau saja,” jawabku sambil mengambil posisi di samping kiri Prince.
“Haha… kau lucu… aku tak mengatakan seperti itu,” ujarnya sambil masih tertawa.
“Terus?”
“Aku bias gunakan menyumbal album untuk kutunjukan ke anak-anakku, hahaha” jawabnya sambil melengos membuang wajahnya untuk mencari photographer.
Aku hanya tersenyum geli mendengar kata ‘anak-anakku’ meluncur dari bibir seorang Prince.

Akhirnya akupun ber-foto dengan Prince.
“Kenapa kau tunjukan fotoku pada anak-anakmu?” tanyaku penasaran.
“Kau kira?” jawabnya sambil tersenyum pergi mendekati temannya yang memanggilnya.
Prince selalu bias membuatku berspekulasi yang aneh-aneh. Dan sekarang spekulasi yang muncul adalah spekulasi jika ‘anak-anak’ yang disebutnya adalah ‘anak-anak kami’. Ah… itu membuatku malu.

Kadang aku berpikir apa nama hubunganku dengan Prince ini…
Dia selalu ada disaat aku butuh dia…
Di saat air mataku jatuh…
Dia selalu menyediakan cemoohan yang membuatku tegar dan tak mau terlihat lemah lagi dihadapannya…
Dia bukan seperti lelaki yang dengan mudahnya menyentuhku…
Dia selalu menahan untuk tidak menyentuhku…
Kuhargai pendiriannya…
Tapi itu yang membuatku tak nyaman…

Sebenarnya apa yang kau inginan dari aku…


“Selamat ya dek, kamu lulus,” ucap ibuku saat keluar dari ruang kelasku yang digunakan untuk pembagian pengumuman.
Air mataku langsung turun melewati pagar kelopak mataku. Tanpa bisa menjawab aku langsung memeluk ibuku yang gendut itu.
“Selamat ‘Kucir’,” ucap Prince sambil menjulurkan tangannya.
“Namaku bukan ‘Kucir’,” dengusku karena muak dengan nama panggilan ‘sayang’ dari guru Sosio yang paling nyentrik seanterio jagat raya.
“Ok, ok… kuulang, selamat ya Naysa,” ujarnya dengan senyuman andalannya. Kusambut dengan senyuman yang paling manis juga.


Kadang aku ingin bisa merubah keputusan Tuhan…
Merencanakan kembali agar kau terikat tali merah hanya denganku…
Tapi apa daya aku bukan orang istimewa yang bisa merubah keputusan Tuhan…
Dan memang tidak ada yang bias merubah keputusan Tuhan yang satu ini…
Tapi aku kadang berharap aku memang berjodoh denganmu…

“Lihatlah,” pintaku pada Niken.
“Siapa dia?” tanya Niken dengan wajah yang menunjukkan tak suka.
“Entahlah, tapi kurasa pacarnya,” ujarku sambil meng-klik profil facebook milik Prince yang sudah setahun ini belum kutemui lagi.

Niken mengerutkan dahi dengan bibir yang mencibir.
“Lihat,” aku menunjukkan album di koleksi fotonya. Tidak ada fotonya dengan cewek selain dengan cewek tadi.
“Stop,” pekik Niken membuat tanganku berhenti menekan tombol next.
“Apa?”
“Kembali,” pintanya tanpa menatapku.
“Lihat? Ceweknya terlalu pencemburu dan protektif, iuch…” ujar Niken jijik.
Apa yang diucapkan temanku semua benar. Cewek ini terlalu pencemburu dan protektif. Ah… Prince kenapa kau mau dengan perempuan seperti itu.

Kau datang di saat aku tak berharap…
Di saat aku tak berharap kedatanganmu…
Berharap kau bisa pergi dari hatiku…
Hilang…
Jangan hanya terkubur dalam…
Hilang…
Tapi entah apa rencana Tuhan dengan mendatangkanmu lagi di depan mataku…
Dan menyentuh hatiku yang sunyi ini kembali…


“Nay, kamu dirumah g?” itulah SMS pertama Prince dari satu tahun lalu.
“Ya aku dirumah, kenapa?”
“Q arep d0lan. Entuk gak?”
Bloody hell… itu membuatku tak tahu harus membalas apa. Terlebih paru-paruku seketika mengkerut tak bisa menampung udara walau sedikit pun. Dadaku sesak. Perutku terasa ada ratusan—oh bukan—bagai ribuan kupu-kupu mengepak bersamaan, membuatku terasa mual dengan perasaan yang seperti… um… bahagia.

Akhirya aku memutuskan untuk menelpon temanku yang sedang menungguku di mall. Sebenarnya aku mau pergi dengan temanku jalan-jalan di mall. Tapi kurasa kesempatan bertemu Prince jarang adanya. Walau melawan dengan harapanku untuk menghindar dari Prince, tapi aku tak mau munafik dia sudah benar-benar berhasil menyentil hatiku lagi.
“Q arep d0lan meng g0nmu, entuk r?” dia mengira aku belum menerima SMS-nya yang awal dan kembali megirimiku SMS.
“Oh… ya… tentu. Datang aja Prince. Um Prince, bagaimana jika nanti sekalian kita makan di mall? Ada Niken juga,” balasku dengan pertimbangan yang matang dengan persetujuan dari Niken dan Linda.
“0k,”

Karena aku baru berpikir tak mugkin Prince akan mau datang kerumahku sendirian, akhirnya aku bertanya lagi.
“Um Prince, kau datang dengan siapa?” tanyaku karena jika dia membawa teman sudah pasti aku tak bisa menebeng motorya untuk ke Mall. Lalu aku harus naik apa?
“W0r0, q wez nang ngarep kuburan. Umahmu seng ndi?” balasnya yang dengan sukses menohok kerongkonganku saking grogi-nya.

Yah… rencana makanpun gagal. Akhirnya temanku yang kusuruh datang ke rumahku. Plan B.
“Ke barat, rumah nomor dua dari kuburan, warna abu-abu putih. Depannya di-paving,” jawabku mendeskripsikan rumahku dengan—kuakui—sungguh acak-acakan,
“Jemput ae lah. Ea ea ea,” pintanya manja seperti kebiasaannya dulu.
“Panas bro. ku tunggu di depan rumah aja ya. Kamu kebarat aja terus. Pelan-pelan,” ujarku sambil melangkah keluar rumah, dan duduk di depan pintu dapur.

Tiba-tiba aku melihat seorang menggunakan hem hitam. Oh God, aku suka dia menggunakan hem. Terlihat sangat cool.
“Hey, sapanya saat sudah ada di depan ku sambil menjulurkan tangannya. Aku menyambut tangannya dengan perasaan yang sangat-sangat gembira dan beralih pada Woro.
“Jadi dimana Niken?” tanya Prince saat sadar tak mendapati adanya Niken.
“Dia masih di mall. Tunggu bentar lagi. Katanya dia mau nunggu Linda dan Hana,” jawabku sambil tak henti-hentinya tersenyum.
“Hana? Eist… dia juga mau kesini,” tanyanya seperti syok.
“Iya. Jelaslah. Diakan cs-ku. Bentar ya aku mau buka pintu dulu,” ujarku sambil berbalik masuk ke dalam rumah.
“Mau di luar atau masuk? Tapi di rumah lagi ga ada siapa-siapa,” ujarku berharap Prince dan Woro mau duduk di depan rumahku dulu selagi menunggu yang lain datang.
“Di luar aja. Ga enak kalau kamu cuma sendirian,” ujar Prince yang langsung membuatku berbunga-bunga. Dia selalu bisa memperlakukan wanita dengan semestinya.

Aku duduk di teras rumahku yang kuakui sangat panas. Tapi mau bagaimana lagi. Kursi yang disediakan di depan hanya muat untuk berdua. Tapi jika aku tipe cewek yang tanpa risih mau berdesakan dengan dua cowok ini, mungkin lain cerita.
“Kamu lulusnya kapan?” tanya Woro di sela obrolan kami bertiga yang jelas hanya basa-basi.
“Tahun 2015. Kenapa?” jawabku kurang antusias.
“Dah dapet pacar nak kuliahan lum nih?” anjrit ga penting banget pertanyaannya.
“Belum,” jawabku ingin menakhiri.
“Jangan mikiri cowok dulu. Kuliah yang bener, cari kerja, baru cowok,” ujar Prince menanggapi.
“Itu dia. Itu rencanaku. Tepat sekali,” jawabku dengan wajah yang sangat berseri-seri. Ternyata Prince mendukung prinsipku. ‘Kejarlah cita-cita sebelum cinta’.
Tak berapa lama teman-temanku berdatangan.
Niken bersama dengan Linda dan temannya, Hana bersama pacarnya. Aku merasa sangat senang sekali bias melihat mereka dan ngobrol dengan mereka setelah satu tahun setelah kelulusan aku tak pernah melihat mereka selain Hana yang biasa kutemui saat aku libur kuliah dan pulang ke rumah.

Tak terasa sudah pukul 12 siang dan terdengar adzan dari masjid dekat rumahku. Tanpa kuduga Prince berdiri bersama dengan Woro.
“Nay, aku ke masjid dulu ya,” ijinnya di sampingku.
Oh Tuhan… saat mendengarnya betapa indahnya ucapannya. Membuat hatiku benar-benar tak mampu berpaling.

Saat Prince dan Woro sudah kembali….
“Guys, gimana kalau kita foto-foto?” ide Hana muncul saat memegang ponsel Niken dan melihat 3.5 mega tertera di samping kamera.
Akhirnya kami berfoto ria. Aku sangat ingin mengajak Prince berfoto berdua. Sangat ingin. Tapi aku bagai terserang krisis percaya diri, akupun memupuskan keinginanku. Dan berharap krisis ini bisa berhenti saat di pantai.

Hari makin sore. Dan sekarang menunjukkan pukul dua siang.
“Gimana nih, jadi ga ke pantai?” tanya Prince meminta penjelasan.
“Ayolah aku ingin banget,” ujar Aryani yang baru datang tiga puluh menit yang lalu persama Wati.
“Masalahnya masih kurang motornya,” jawab Prince nyata. “Hey, Naysa, ajak pacarmu atau tetanggamu yang cowok gih,” suruh Price yang membuatku bergidig.
“Pacar? Ga punya,” jawabku jujur.
“Terus Singgih apa?” celetuk Hana yang membuat aku dan Prince (yang bias kulihat dari ekor mataku) terperangah.
“Eist… dia bukan pacarku,” jawabku meralat.
“Ajak dia aja deh. Diakan mantanmu,” saat mendengar ini dari bibir Prince rasanya aku bagai jatuh dari ketinggian ratusan meter… gubrag…
“Ih… ga mau,” jawabku sambil menengok Prince yang sedang merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang berdering.
“Halo,” jawabnya sambil mengambil tempat yang jauh dari jangkauan kami.
“Kurasa aku harus pulang,” ucap Prince yang membuatku kecewa.
“Kenapa?” celetukku tanpa aku menyadarinya.
“Tidak apa-apa,” jawab Prince dengan senyuman yang sangat terpaksa. “Ayo Wo,” ajak Prince sambil menjabat tanganku yang beralih keteman-temanku yang lain.


Mungkin tak kan pernah aku disayang kamu…
Tak kan pernah dicinta olehmu…
Namaku juga tak kan pernah singgah di hatimu…
Bahkan mungkin tak terlintas diriku di ingatanmu…
Namun, bolehkah aku mengintipmu di balik mimpi malamku…
Bolehkah aku menitipkan rindu ini diantara jingganya senja yang akan menghilang…
Ijinkan aku tuk selalu menyelipkan namamu di antara barisan doa…
-apsa gtpbgt-


“Benarkah itu kau Prince?” tanyaku di alam mimpi.
“Ya tentu…” jawabnya dengan senyuman yang begitu familiar dan selalu berhasil membuatku jantungan.
“Ku lihat kau memberikan sesuatu pada nenekku?” ujarku penasaran.
“Oh ya,” jawabnya singkat tanpa membuang senyumannya.
“Bolehkah aku tahu apa itu?” tanyaku dengan sopan namun terlihat sangat menuntut.
“Sesuatu untuk orang yang ku cintai,” ujarnya sambil mendekatiku dan meraih tubuh mungilku. Dan merengkuhku dalam pelukannya yang hangat. Harum tubuhnya tak pernah berubah. Kehangatannya pun tak pernah berubah.
“Untuk pacarmu?” ujarku yang kini mulai relax dalam pelukannya.
“Kau pikir?” ujarnya sambil mengendurkan pelukannya tanpa melepaskan tangannya dari pinggangku dan menatapku dengan penuh ketenangan.
“Aku?” aku mencoba menebak satu kali lagi dengan nada becanda.
Prince hanya tersenyum dan melepaskan tangannya dari pingganggku dan melangkah pergi dengan senyuman yang masih mengembang indah.

Aku mencintaimu…
Bukan cinta sebagai adik pada kakaknya…
Bukan juga cinta sebagai kakak pada adiknya…
Atau cinta pada sahabat…
Ini lebih rumit…
Aku mencintaimu bagai seorang wanita mencintai seorang pria…

Aku mencintaimu…
Walau tak terucap…
Aku mencintaimu…
Walau kesempatan tak pernah ada…
Aku mencintaimu…
Walau ini hanya mengandung perih…
Aku mencintaimu…
Walau mungkin tak kan bersama…
Aku mencintaimu…
Meski dengan pengertian cinta yang berbeda…
Aku mencintaimu…
Selalu…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JODOHKU BENANG MERAHMU

LIKE AN ANGEL PART II

GARA GARA CINTA 2 (COWOK AJAIB)